5G Diblokir AS, Huawei Kembangkan 6G -->

Menu Atas

Kategori

adsense

5G Diblokir AS, Huawei Kembangkan 6G

Huawei berusaha untuk memimpin di bidang 6G. CEO Ericsson menilai, AS serta Eropa akan menyesal besar apabila Huawei atau pemerintah Cina lebih dulu membikin standar teknologi generasi terakhir ini.  Huawei Technologies berusaha untuk memimpin di bidang teknologi jaringan internet generasi keenam atau 6G. Ini dilakukan ketika solusi 5G-nya diblokir di Amerika Serikat (AS) serta Eropa. Menurut laporan NikkeiAsia, agenda Huawei menyebarkan 6G tiba ketika AS serta Jepang tengah mendorong teknologi ini. Produsen handphone asal Cina ini pun gencar merekrut tenaga pakar dari luar negeri. “Karyawan wajib melanggar ‘batas di langit’ serta menetapkan standar global dalam industri,” kata pendiri sekaligus kepala eksekutif Huawei Ren Zhengfei dalam pertemuan internal dengan para peneliti serta karyawan bulan lalu, dikutip dari Gizmochin. 


Berdasarkan dokumen internal perusahaan, pejabat senior berkata bahwa Huawei akan semakin menyebarkan urusan ekonomi 5G serta kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun sembari bergerak maju di teknologi generasi berikutnya. Walaupun Huawei menyadari bahwa rintangan paling besar dalam menyebarkan 6G yakni AS. “Penelitian kami mengenai 6G merupakan persiapan menghadapi ‘hujan’. Kami berfungsi merebut hak paten 6G. Kami tak boleh menantikan hingga 6G menjadi layak,” katanya. Sampai ketika ini, Huawei sudah memegang paten esensial standar dalam jumlah paling besar untuk teknologi 5G. Namun berbagai negara semacam Cina, AS, Jepang, serta Korea Selatan mulai menyebarkan 6G. 

Oleh sebab itu, Huawei mulai gencar menyebarkan 6G. Raksasa teknologi Cina ini pun merekrut tenaga pakar asing dalam jumlah besar. “Perusahaan kami berada dalam periode kritis kelangsungan nasib serta pengembangan strategis. Jadi kami wajib mempunyai bakat yg  diperlukan apabila ingin maju,” kata Ren Zhengfei, dikutip dari SCMP, Rabu (15/9). Itu dilakukan ketika Huawei menyebarkan tak sedikit teknologi semacam 6G, komputasi awan (cloud), sistem operasi atau operating system (OS) HarmonyOS sebagai pengganti Android, serta Huawei Mobile Services (HMS). 

Sedangkan CEO Ericsson Börje Ekholm menilai, negara-negara Barat semacam AS serta Eropa menyesal apabila Cina membikin standardisasi 6G sendiri. Sebab, Tiongkok akan membentuk ekosistem teknologi. ADVERTISEMENT “Ekosistem Cina akan menjadi pesaing tangguh bagi Barat,” kata dirinya dalam wawancara langsung dengan Light Reading dikutip dari Telecoms, bulan lalu (25/8). Menurutnya Cina mempunyai keunggulan dari segi riset serta pengembangan (R&D) bidang teknologi telekomunikasi. “Meskipun investasi 5G kuat di AS, tak lebih terang apakah ekosistem Barat akan mengikuti pengeluaran R&D yg besar di Asia, terutama Cina,” kata Ekholm.


Pemisahan ekosistem teknologi antara AS serta Cina pun tengah terjadi. AS melarang vendor telekomunikasi Tiongkok, semacam Huawei, di tak sedikit pasar. Negeri Paman Sam juga membujuk Eropa melakukan faktor serupa. Hal itu berdampak juga ke Ericsson, yg pangsa pasarnya menurun di Cina. Ini sebab Swedia memblokir jaringan 5G Huawei. Meskipun di satu sisi, Ericsson dapat menggaet lebih tak sedikit pasar di Eropa serta AS yg ditinggal oleh Huawei. Di tengah tekanan kepada perusahaan Cina oleh AS, Huawei memperkirakan akan merilis 6G pada 2030. Ini seiring dengan agenda pemerintah Tiongkok. 

Huawei pun memimpin dalam perlombaan paten 6G, mengalahkan raksasa lainnya tergolong ZTE, OPPO, Vivo. Secara khusus, ada 38 ribu paten yg diisi dengan cara global. Cina mempunyai kurang lebih 35% di antaranya. Cina pun menjadi negara dengan paten 6G terbanyak di dunia, menurut laporan Huawei Central. Huawei berinvestasi serta meneliti 6G semenjak 2017. Selanjutnya, perusahaan berencana melakukan pembicaraan terbuka mengenai 6G dengan pakar industri lain untuk memperoleh kemungkinan definisinya. Selain itu, akan segera merilis kertas putih atau white paper 6G yg membahas persyaratan dasar jaringan. “Kami percaya bahwa 6G akan didasarkan pada 5G serta apa yg sudah dipelajari darinya,” kata Huawei dikutip dari Huawei Central.