Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Saudara yang Terpisah



Zaman dahulu sebelum masa kolonialisasi oleh bangsa Eropa, seluruh kepulauan nusantara memiliki kerajaan tersendiri. Ada kerajaan yang menjadi bawahan atau taklukan, adapun juga kerajaan yang superpower kala itu. Majapahit dan Sriwijaya saat itu telah banyak melakukan ekspansi ke luar negara baik secara politis maupun secara militer. Saat itu hampir seluruh pulau - pulau besar mengenal bahasa melayu dikarenakan bahasa tersebut memjadi bahasa pergaulan dalam ekonomi maupun politik saat itu. Seiring waktu terjalin lah persaudaraan antar kerajaan, ada orang orang yang berpindah tempat dari satu kerajaan ke kerajaan lain seperti orang-orang Pagaruyung yang pindah ke Malaka dan kini keturunannya menjadi warga Negeri Sembilan, ada juga seperti orang-orang Demak yang kemudian bertransmigrasi ke Palembang yang kemudian memberi pengaruh terhadap bahasa yang kini dipakai oleh orang-orang Palembang. Namun manisnya hubungan tersebut sirna setelah politik adu domba yang dilancarkan oleh bangsa Eropa yang menjajah saat itu, Inggris menguasai tanah Malaya, sementara Belanda menguasai kepulauan Nusantara. Dari waktu kewaktu bangsa Eropa pun berkontribusi terhadap keilmuan baru, maupun hal negatif seperti budaya korupsi dan mabuk mabukan serta prostitusi. Walaupun tak bisa dipungkiri tanpa campur tangan bangsa Eropa kita takkan pernah bisa mencicipi rasa persatuan antara saudara saudara kita di Nusantara ini sehingga terwujudlah negara Indonesia, namun hal lainnya adalah kita tak bisa bersatu dengan saudara-saudara kita di tanah Malaya disana, yang kini menjadi negara berdaulat seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Filipina.