Tingkat Pengangguran Sudah Menghawatirkan, Salah Siapa?

adsense

Newsletter

Tingkat Pengangguran Sudah Menghawatirkan, Salah Siapa?

Guratanku.com (27/08/19) -Tingginya para pencari kerja di usia produktif dapat dijadikan salah satu indikator tingkat pengangguran di Indonesia.

Banyak beranggapan lapangan pekerjaan sekarang semakin sedikit dan lebih sulit karena harus bersaing selain dengan bangsa sendiri kita pun harus berhadapan dengan penawaran tenaga kerja asing.

Banyak yang menyalahkan pemerintah dalam hal ini. Padahal pemerintah sudah berusaha memperjuangkan mereka dari sejak berada pada pendidikan sekolah.

Jika kang Adymin melihat, rengekan tersebut dapat dianalogikan bagaikan rengekan anak yang manja pada orang tuanya untuk memperoleh apa yang diinginkannya meskipun usia anak tersebut sudah dibilang memasuki masa dewasa.

Okey, pemerintah bersalah atas bebasnya warga asing sehingga warganya sendiri belum bisa menikmati pekerjaan yang diinginkannya.

Namun tahukah anda, jika sebenarnya keadaan seluruh dunia ada dalam globalisasi yang memudahkan kita saling mengenal antar bangsa tanpa kendala berarti.

Itu artinya, sama halnya seperti katak dalam tempurung yang tak siap untuk melihat dunia luar yang sesungguhnya. Dewasa ini mau tidak mau memang antar bangsa  banyak melakukan interaksi untuk mendapati keuntungan satu sama lain. Dan hanya negara tertinggal saja yang enggan untuk melakukan interaksi dengan negara lain yang juga bisa dikatakan bahwa sama saja menutup diri sendiri untuk saling mengenal dan berteman.

Dalam pergaulan internasional, setiap negara yang berinteraksi tentu sangat menjunjung kepentingan masing-masing namun agar kepentingan kita dapat terpenuhi maka keegoisan adalah hal yang harus dihindarkan dalam hubungan bilateral.

Sebenarnya sisi positif dari masuknya TKA tidak bisa kita pungkiri juga, karena selain kita dapat bersaing kita dapat mepelajari etos kerja dan teknologi mereka.

Adapun memang dalam kehidupan ini kita harus bersaing dalam kebaikan. Jadi jika seandainya kalah bersaing maka tiada satupun orang yang pantas disalahkan selain diri sendiri.

Menurut para mahsiswa yang barusaja lulus , mencari kerja adalah momom bagi mereka karena amat sulit. Tingginya nilai IPK pun bukanlah jaminan membuat mereka akan diterima pada setiap perusahaan yang mereka butuhkan.

Namun beda lagi dengan kata HRD di suatu perusahaan. Ternyata mencari pekerja yang baik justru lebih sulit ketimbang seseorang mencari pekerjaaan.

Bukan rahasia umum lagi memang, mengingat kondisi mental sebagian besar anak bangsa kita sepertinya belum terlalu matang untuk mampu mengisi kekosongan yang ada. Bisa jadi ada banyak faktor yang membuat susahnya mendapat pekerjaan.
Antara lain, kurangnya relasi, kurangnya kemampuan komunikasi, kekurangan dalam interview atau pun bisa jadi memang skill yang belum cukup untuk membuat perusahaan menganggap memiliki nilai  lebih.

Solusi terbaik adalah dengan menumbuhkan kesadaran sejak dini untuk tidak bermalas malasan terlebih untuk menghadapi segala perubahan yang terjadi.

Selain itu jangan hanya fokus mencari kerja tetapi cobalah untuk membuka peluang pekerjaan sendiri. Dan kadang dalam membuka peluang usaha kebanyakan orang bingung akan modal awal. Sebenarnya hal tersebut bukanlah penghalang jika kita memiliki niat dan keberanian ambil resiko berapapun modalnya akan dapat dicari dengan apapun caranya.

Kang Adymin sebenarnya tidak bermaksud menghakimi salah satu pihak. Namun ada baiknya semua mulai membuka diri bahwasanya dengan globalisasi dewasa ini  dapat mempermudah kita dalam mendapatkan hal lebih dari yang kita inginkan. Semoga readera selalu bahagia!