Buang Sampah Sembarangan Masih Jadi Aset Bangsa

adsense

Newsletter

Buang Sampah Sembarangan Masih Jadi Aset Bangsa


Guratanku.com -  Keberhasilan Pemerintah bukan hanya dapat dilihat dari infrastruktur yang berhasil dibangun. Memang sekarang tengah gencar-gencarnya pembangunan dimana-mana, namun dibalik suksesnya pembangunan tersebut, masih tersimpan PR   sulit yang harus dikerjakan. Salah satunya tentang pembangunan mental masyarakat yang masih banyak yang perlu dibenahi. 

Sebagian masyarakat Indonesia umumnya amat mencintai budaya bersih. Dari hal kecil seperti membereskan rumah dan tempat tinggal sepertinya bukanlah pekerjaan yang sulit bagi masyarakat dewasa ini. Namum uniknya budaya bersih-bersih tersebut hanya berlaku untuk di rumah atau di kantor kerja saja. Biasanya ketika orang-orang ditempat umum seperti jalan raya, stadion, taman wisata dan lain-lain entah terkena sihir apa akhirnya budaya bersih tersebut banyak yang tak terpakai dan kebanyakan orang inkonsisten dalam hal ini. 

Miris sekali ketika kita melihat seorang turis asing membersihkan  sampah di sepanjang jalan desa-desa. Seolah kita tak ada jiwa kebersihan sama sekali, padahal iya memang demikian adanya di masyarakat Indonesia saat ini. 
Ada juga yang memang sejak lahir sudah diajarkan kebersihan, mereka terbiasa rajin dengan rumah-rumahnya. Namun saat membuang bekas kemasam makanan masih main kucing-kucingan, mencari tempat yang aman, nyaman dan tentram untuk membuang sampah pada tidak di tempatnya. Entah itu dari profesi masyarakat kelas bawah sampai bahkan elite pun ternyata masih saja demikian. Sehingga jika ketika kita melihat sebuah kota yang bersih jalannya merupakan ketidaklaziman. Karena memang kebiasaan bersih di masyarakat kita hanya untuk di rumah saja belum mendarah daging sampai keluar rumah. Namun walaupun demikian, masih ada orang-orang yang benar-benar peduli dengan keadaan lingkungan kita. Maka berterimakasihlah dengan mereka yang secara ikhlas bekerja keras untuk dapat menghalangi hobi buang sampah sembarangan di masyarakat umum. Rasa terimakasih tersebut bukan hanya diucap di bibir saja, namun lebih kepada menghargai jerih payah kerja tersebut dengan membuang sampah pada tempat seharusnya. Kadang kebanyakan orang yang berjasa tersebut dipandang sebelah mata, misalkan pekerjaan housekeeping di hotel, pekerjaan pemulung sampah, dan pekerjaan jenis tersebut yang lainnya. Padahal tanpa mereka sampah-sampah yang berserakan selain tidak elok dipandang mata tentu akan menimbulkan masalah baru baik itu penyakit raga maupun penyakit jiwa. Berdasarkan falsafah agama islam pun mengatakan demikian "kebersihan adalah sebagian dari iman". Maka dengan badan dan lingkungan yang bersih tentu suasana hati dan kondisi mental pun tidak ada keraguan untuk turut bersih juga.

Terkadang banyak dalih yang membuat masyarakat kita berpegang teguh pada budaya inkonsisten kebersihan tersebut. Baik itu karena merasa sudah ada petugas kebersihannya, jauhnya tempat sampah bahkan alasan karena terpaksa. Padahal apapun alasannya sampah non organik sekecil bungkus permen saja sudah berbahaya jika dibuang sembarangan, selain yang bisa diurai tentu akan mengganggu lingkungan sekitar.

Hal ini menjadi tanggung jawab bersama dan tentunya harus diproritaskan para pemimpin kita agar masyarakat kita mampu beralih tradisinya. Pendidikan sedari dini dan pendisiplinan yang konsisten akan memberikan shock therapy yang efektif bagi masyarakat kita yang kukuh pada adatnya tersebut.

Akhir kata, mari kita rubah kebiasaan kotor yang dianggap lazim untuk terganti dengan kebiasaan dan budaya  kebersihan yang merupakan kelaziman sesungguhnya. Semoga bahagia selalu!.